KOMIK PORNO atau cerita bergambar porno, ternyata tidak semuanya pantas dibaca oleh anak. Sebab berdasar penelitian yang dilakukan psikolog dan pengasuh Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta, Elly Risman, banyak di antara komik yang beredar di pasaran bermateri pornografi.
“Media pornografi yang diakses anak, paling tinggi melalui komik angkanya 26 persen. Padahal isinya tidak melulu cerita anak-anak, melainkan juga pornografi yang berakibat merusak lima bagian otak,” kata Elly Risman pada seminar smart parenting bertajuk Bijak dan pede bicara tentang seksualitas pada anak, Sabtu (20/2) di Aula Kayuh Baimbai Jalan RE Martadinata, Banjarmasin.
Dia menyebut di antara komik dimaksud adalah Naruto, yang sekarang sedang digandrungi anak-anak dan remaja.
Kemudian ada juga Wedding Fever, Jurus Membuat Anak, hingga komik yang isinya mengenalkan perilaku homoseksual.
Setelah komik, anak paling banyak mengakses pornografi lewat game, situs, film, dan tontonan televisi seperti kartun Naruto, Sichan, Popeye.
“Anak terpapar pornografi sejak kecil, tidak heran bila kemudian ada anak yang lari dengan teman mayanya, melakukan seks bebas, bahkan memperkosa dan incest (hubungan kelamin antar anggota keluarga). Di tengah badai teknologi sekarang, lalu dimana kita orangtua,” tandasnya.
Orangtua, lanjutnya, lebih memerhatikan perkembangan akademik putra-putrinya ketimbang perasaan anak-anak. Bahkan orangtua juga dengan senang hati membelikan handphone pada buah hatinya yang masih SD dengan alasan kemudahan komunikasi.
“Kasih hp pada anak SD, blackberry lagi, padahal dengan itu anak bisa mengakses macam-macam. Itu orangtua yang sudah hilang akal sehat,” ujarnya dihadapan ratusan peserta seminar kerjasama PW Salimah Kalsel dan IIDI Banjarmasin.
Apalagi anak-anak sekarang lebih cepat matang (akil baligh) dibanding anak-anak dulu, selain karena pengaruh makanan juga lingkungan.
“Sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi, kita orangtua harus mengantisifasi dan mempersiapkan anak memasuki masa puber. Jangan sampai terjadi, ketika anak menstruasi atau mimpi basah, kita justru kaget dan tidak siap,” ujarnya.
Diakuinya, bicara tentang seksualitas pada anak tidaklah mudah. Dia pun memberi kiat-kiat bijak, di antaranya orangtua harus konsekuen dan resfek memberi pendidikan seksualitas, landasannya agama, putuskan keluar dari tabu dan saru, serta tingkatkan terus pengetahuan dan ketrampilan.
“Ketika menyampaikannya pada anak juga jangan borongan, mulai sedini mungkin, jangan tunggu anak bertanya, dan jangan pernah mengeksport tanggung jawab,” tegasnya.
Seminar yang tertutup bagi anak-anak tersebut, menurut Ketua Panitia Pelaksana Melly Ardik, tercetus karena melihat pergaulan remaja di Banjarmasin yang mulai menunjukkan potensi ke arah negatif, warnet yang mayoritas pengunjungnya anak-anak, hingga kurangnya etika anak ketika bicara dengan orang yang lebih tua.
“Hal itu seperti bom waktu, siap meledak setiap saat. Makanya penting kepedulian setiap orangtua, keluarga, guru untuk bisa berkomunikasi dengan anak sehingga yang muncul potensi positif,” harap Melly Ardik.
